Wednesday, 15 October 2008

Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua

oleh Pay

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan kepindahan saya dari Biak ke Denpasar. Setelah menanti hampir tiga tahun, akhirnya saya keluar juga dari Biak. Selama itu banyak hal-hal yang menarik yang jadi pengalaman hidup. Kata para motivator “ pengalaman adalah pelajaran yang berharga”. Dan pengalaman di Biak tidak akan pernah saya lupa terutama karakter dan kebiasaan teman-teman yang “nemu disana”.

Karakter yang paling unik mungkin dipegang oleh cewek Batak yang satu ini, kelahiran Jayapura dan besar di Bandung, calon hakim yang hobinya minjem. Mulanya sih menyenangkan, obrolannya asyik apalagi punya kegemaran yang sama “nonton DVD”, tapi lama kelamaan udah mulai rese. Diawali dengan minjem DVD, trus minjem buku, majalah, berlanjut minjem baygon spray dan fresh spray. Nah khusus baygon dan fresh spray ini minjemnya tiap hari…Karena dah sebulan minjem terus dan saya juga gak mau terganggu, akhirnya saya berikan aja…ehhh begitu dah habis, minjem lagi..ampun deh..

Kalo’ yang ini cowok Toraja, alim banget kliatannya, saking alimnya dia dapat julukan “Bapa Gembala”. Di HP nya lagu-lagu rohani bejibun mulai dari Nikita, Franky Sihombing, Jefry S. Chandra sampe Doon Moen juga ada. Tapi..video sejenis Maria Eva dan Yahya Zaini juga gak kalah banyaknya, mulai dari yang local biak sampe yang keluaran India tertata rapi di HP nya…Wah…betul-betul kontadiktif hehehe

Nah, bapak yang satu ini, sbenarnya bukan “nemu disana” tapi senior saya waktu kuliah, berputra satu, paling dewasa di kos makanya diangkat jadi ketua RT di kos-kosan. Hobinya ngomongin politik dengan referensi majalah tempo. Biar nyambung ngomongin politik saya dipinjemin majalah tempo tiap minggu. Penggila bola apalagi yang berasal dari Jerman.

Yang ini berasal dari Purwokerto, kerja di Patrakom, hobinya mancing tapi ga pernah dapat ikan. Selain mancing hobi lainnya minta tanda tangan….hehe buat apa…Ternyata kalo dia udah memperbaiki BTS di Pulau Yapen atau Supiori maka semua biaya-biaya yang keluar selama masa perbaikan dapat diklaim ke kantor tapi dengan syarat ada kwitansinya, maka bergerilyalah dia dari kos ke kos minta tanda tangan. Yah di mark up dikit lah…..Satu lagi kebiasaanya, suka ngomong “cuki mai” kalo’ ngumpat, dia baru berhenti ngomong itu sejak saya beritahu kalo’ arti “cuki mai” sama dengan “fuck me”…nah lo.

Cowok Bogor ini paling beruntung, kerja di War Besrendi (dalam bahasa biak artinya Air Bersih) perusahaan Belanda yang bekerjasama dengan PDAM, dapat jatah tiket pulang-pergi Biak-Bogor tiga bulan sekali selama 2 minggu…baru tau kalo ada perusahaan kayak gitu…padahal di Biak, perusahaan ini defisit….bikin sirik aja…. Dan saya juga baru tau kalo ada yang namanya Batikphobia, ketakutan yang berlebihan terhadap batik. Lihat sandal saya yang bercorak batik aja dia bisa ketakutan…pantesan waktu saya titip dibelikan skin laptop corak batik dia gak mau, komentarnya “mengerikan”…

Ada lagi yang unik, Cowok Bandung, kerja di SIP, perusahaan yang bermarkas di Bandung, bergerak di bidang pembangunan BTS. Sama dengan Patrakom, tapi ini agak sedikit beda, biaya operasional, biaya pulsa, biaya makan sampe snack nya bisa diklaim ke kantor. Jadi setiap naik angkot, naik ojek, isi pulsa, beli makanan ringan dan sehabis makan di warung, pasti minta nota…Masih kurang ? kadang-kadang suka nitip pesan kalo saya mau makan, “nanti minta nota ya”…rupanya ngumpulin nota supaya bisa diklaim….maka dapatlah dia julukan “BON COLLECTOR”.

Tapi dari beragam karakter itu kami semua punya satu persamaan..”sama-sama pernah terserang Malaria”. Rupanya kita harus banyak belajar sama nyamuk. Nyamuk tidak mengenal suku kamu apa, agama kamu apa, warna kulit kamu apa, kerja dimana, umur berapa, gendernya apa, kamu alim apa gak, apakah kamu politikus, apakah suka ngumpat dengan kata “cuki mai”, apakah kamu batikphobia, apakah kamu suka mark up kwitansi, apakah kamu “Bon Collector”, yah nyamuk tidak membeda-bedakan, tidak mengenal SARA, semuanya diserang!!!!!!!
Comments
2 Comments

2 comments:

Anonymous said...

Mo Ralat ah dikit.. sebagai salah satu korban kekerasan -halah- yang diceritain sama Pay.
Saya co bogor yg katanya batikphobia itu(rada bener sih..). Yang mo saya ralat itu status saya Pay, bukan karyawan War Besrendi (perusahaan patungan Belanda-Pemda Biak), tapi saya karyawan dari Perusahaan Belanda-nya yang ditempatkan di War Besrendi sebagai Finance Controller, makanya dapat jatah pulang dan ga kena pengaruh defisit, wong kantornya beda ko :-)
So Pay, how's your day in Bali ? i'm still in biak, still waiting for movement..

Anonymous said...

oh...gitu ya...kamu ndak cerita sih..habis kalo libur ngeram aja bisa sampe 2 hari.....

pay

Post a Comment

About Me

My Photo
Saya lahir di sebuah desa di pinggiran kota kediri Jawa Timur. Dari tk sampai SMA di desa.....jadi asli wong ndeso he...he..he. Kemudian melanjutkan kuliah di UGM fakultas farmasi Angkatan '94. Lulus Th 2001 Selanjutnya bekerja di apotek kimia farma sejak februari 2001 sampai dengan februari 2012. Kemudian memutuskan untuk menjadi pengusaha walaupun kecil-kecilan. Prinsip hidup : kerja keras dan jangan takut mencoba. Beramal sebaik-baiknya dengan mencoba untuk ikhlash Kontak Saya : email : didiksugi@gmail.com

Blog Archive

 
Copyright © 2011. Bloging, Tips, News . All Rights Reserved Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates